Kiat-kiat Untuk Meninggalkan Musik

"Musik haram!" 

Seketika Aku pun kaget dan heran ketika mendengar ucapan temanku itu. Bagaimana tidak, musik yang merupakan hiburan yang sering ku dengarkan ketika saat sedang sedih, galau, dan kesepian, eh kok bisa-bisanya dikatakan haram? Nggak terima dong kan, ya.

Aku masih tidak percaya dan tidak terlalu mempedulikan perkataan temanku itu yang mengatakan bahwa musik itu haram. Aku tetap saja melanjutkan aktivitas mendengarkan musik itu. Aku merasa tidak ada yang salah dengan apa yang ku dengarkan selama ini, jadi ya tetap lanjut saja tanpa memikirkannya..

"Wong musik yang Aku dengarkan adalah musik Islami, apa salahnya, selagi tak mengundang syahwat dan tak mengajak melakukan maksiat ya sah-sah saja." Begitu pikirku.

Kemana pun pergi, telingaku selalu ku sumbat dengan earphone sembari mendengarkan lagu-lagu yang tersimpan rapi di ponsel pintarku.

Hari demi hari berlalu, perlahan, aku mulai menyadari dan mengintrospeksi diri. Sejak mendengarkan musik dan nyanyian, kini Al-Quran yang dulu menjadi teman setiaku menjadi berdebu dan tak pernah lagi tersentuh olehku yang sibuk mendengarkan lagu-lagu.

Hafalan qur'an yang sudah lama ku hafalkan menjadi hilang di ingatan, yang tersisa hanyalah lirik lagu yang ku anggap itu adalah sebuah kebaikan. Ketika sholat pun hatiku merasa ketidaktenangan karena yang terlintas di pikiranku hanya nyanyian dan... nyanyian.

Entah apa yang terjadi, hati kecilku pun mulai bertanya-tanya "Apa iya musik itu haram? Apa sih yang membuatnya haram? Kan selama ini musik yang ku dengarkan baik-baik saja..."

Penasaran...

Perlahan, aku mulai mencoba mendengarkan kajian-kajian. Dan aku pun mulai penasaran dan mencoba untuk mendalami lagi hukum musik yang sebenarnya itu apa sih.

Aku pun mulai mencari kajian-kajian tentang musik di Youtube, mataku pun tertuju dengan salah satu kajian yang berjudul "Bagi Aku, Musik itu Halal" yang disampaikan oleh Ust. Syafiq Riza Basalamah -hafizhahullah-. Karena kajiannya panjang, aku pun mengunduhnya. Kamu bisa melihatnya juga disini.

Selesai mengunduhnya, aku pun mendengarkan kajiannya. Hatiku merasa tenang ketika mendengarkan kajian itu, ustadz yang menyampaikannya pun penuh dengan kelembutan dan juga disertai dalil dari Al-Quran, Hadits, dan pendapat ulama-ulama terdahulu.

Aku semakin yakin bahwa musik itu memang diharamkan setelah mendengarkan hadits yang mulia ini dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Seperti ini isinya:

"Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik."

Tak hanya itu, aku juga semakin yakin ketika beliau menyebutkan bahwa ke-empat imam madzhab (Imam Syafi'i, Hanafi, Hanbali, dan Maliki) sepakat bahwa musik itu haram, beliau lengkap menyebutkan apa perkataan ke empat ulama tersebut di kitabnya masing-masing.

Tapi, ada sesuatu yang mengganjal dipikiran ku. "Tapi itu kayaknya untuk musik metal, cinta-cintaan, galau, dan semisalnya, deh"

Lalu, bagaimana dengan musik -yang kita anggap- Islami? Musik yang kita anggap sebagai sarana dakwah, musik yang liriknya berisi sholawat, dan musik yang mengajak kita untuk selalu mengingat Allah Ta'ala, apakah haram juga? Kan ini baik...

Memang benar. Hal itu mengandung kebaikan, tapi menurut siapa? Jika Allah dan Rasul-Nya menganggap hal itu adalah baik dan menjadi salah satu cara terbaik dalam berdakwah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat adalah orang-orang yang paling pertama kali melakukan hal tersebut. Akan tetapi tidak ada satu pun cerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya melakukannya, bahkan mereka melarang dan mencela hal itu.

Nah, intinya musik Islami juga haram. Jika musik Islami itu baik tentu Rasulullah dan para sahabatnya lebih dahulu memainkannya daripada kita.

Kiat-kiat Bagi yang Ingin Meninggalkan Musik

Kiat-kiat untuk Meninggalkan Musik
Banyak yang mengetahui dan mempercayai bahwa musik memang diharamkan. Akan tetapi, sulit sekali untuk meninggalkannya. Saya sendiri butuh waktu berbulan-bulan untuk meninggalkan musik. Bagaimana tidak, kita hidup di akhir zaman yang mana setiap harinya mau tak mau pasti bertemu dengan musik. Entah itu di rumah, di sekolah, di kantor, dan lainnya.

Untuk meninggalkan musik, kamu tak bisa langsung auto berhenti seketika itu saja setelah mengetahui bahwa musik itu haram. Kamu bisa mencoba secara perlahan terlebih dahulu agar bisa ke depannya berhenti secara total.

Baiklah, untuk membantu teman-teman yang ingin hijrah atau berhenti bermain dan mendengarkan musik, saya akan rangkum beberapa cara yang bisa kamu terapkan untuk berhenti bermain musik. Apa-apa saja Kiat-kiat untuk Meninggalkan Musik itu? Berikut adalah tulisannya yang saya susun untuk sobat semua.

1. Niat Berhenti Karena Allah Ta'ala

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad)

Seperti itulah janji Allah Ta'ala bagi siapa saja yang berani meninggalkan sesuatu karenaNya. Seperti yang kami kutip dari situs Rumaysho.com, "Siapa yang meninggalkan nyanyian yang sia-sia dan musik yang banyak melalaikan, maka Allah akan ganti dengan hal yang lebih bermanfaat dan dijauhkan dari kemunafikan."

Ya, hal pertama yang harus kamu lakukan ialah berniat! Jika tidak ada niat dalam diri kamu untuk berhenti bermusik tentu akan sulit untuk berhenti. Dan ingat! Niatkan semuanya karena Allah, insyaallah semuanya akan jadi lebih mudah.

2. Mengganti Musik dengan Murottal Al-Quran dan Kajian

"Jika kita ingin meninggalkan sebuah kebiasaan, kita harus menggantinya dengan kebiasaan lain." Begitu kata Ustadz Abu Yahya Badrusalam.

Buat kamu yang sudah lama berkecimpung dalam dunia permusikan, tentu agak susah berhentinya. Tapi, tidak perlu khawatir, semoga dengan izin Allah Ta'ala dimudahkan untuk meninggalkan musik. Maka dari itu, untuk meninggalkan kebiasaan bermusik ini kita harus menggantinya dengan sering-sering berdzikir, membaca dan mendengarkan Al-Quran, mendengarkan kajian, dan melakukan kegiatan bermanfaat lainnya.

3. Memilih Lingkungan dan Teman yang Baik

Selanjutnya, untuk meninggalkan musik haruslah kita memilih lingkungan dan teman baik yang jauh dari musik. Kamu bisa pergi ke pengajian yang mengajarkan Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para generasi sholeh terdahulu untuk mendapatkan teman-teman yang baik.

Jika lingkunganmu belum mendukung, kamu bisa membatasi pergaulan agar tidak terjerumus lagi dan kembali bermain musik. Semoga Allah Ta'ala memudahkan kita semua.

4. Sibukkan Diri dengan Ilmu

Kamu bisa menyibukkan dirimu dengan hal yang bermanfaat untuk meninggalkan musik, seperti dengan membaca dan mendengarkan ilmu. Kamu bisa mengunduh kajian-kajian Islam di situs Pakdenono.com atau dengan membeli buku agama Islam tentang Tauhid, Aqidah, atau Manhaj agar lebih menambah dan menguatkan kamu dalam meninggalkan musik.

5. Rutin Melakukan Ibadah, terutama Ibadah yang Wajib

Tips atau kiat-kiat selanjutnya untuk meninggalkan musik adalah dengan rutin melakukan ibadah wajib seperti sholat lima waktu secara berjamaah di Masjid, bagi kamu yang laki-laki. Lalu tidak lupa juga dengan menambah dengan ibadah-ibadah Sunnah lainnya.

6. Bertaubat kepada Allah Ta'ala

Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang ikhlas, jujur dan benar. Dan berusaha agar tidak mengulanginya lagi.

Demikianlah tulisan saya kali ini yang berjudul Kiat-kiat Untuk Meninggalkan Musik. Semoga apa yang saya sampaikan bisa diambil manfaatnya. Jika ada kesalahan tolong beritahu saya di kolom komentar. Saya sangat senang jika ada yang ingin mengingatkan kesalahan saya, tentu mengingatkannya dengan cara yang benar.

Catatan kaki:

  1. https://muslim.or.id/20706-benarkah-musik-islami-itu-haram.html
  2. https://rumaysho.com/9596-meninggalkan-sesuatu-karena-allah.html
  3. https://aslibumiayu.net/7125-kiat-kiat-meninggalkan-lagu-dan-musik.html

4 Obrolan seru!


Show EmoticonHide Emoticon

  1. Mas, itu kayaknya salah ketik deh.. Yang Ustadz bilang, "Bagi Aku, Musik Itu Halal"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran kok, itu judul kajian beliau.

      Hapus
  2. Oh, iya kah mbak? Terima kasih ya.

    BalasHapus