7 Hal yang Bikin Takut Ketika Menjadi Anak Kos di Tanah Rantau

7 Hal yang Bikin Takut Ketika Menjadi Anak Kos di Tanah Rantau – Tak terasa, sudah dua semester lamanya aku menjadi seorang mahasiswa di prodi Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang. Selama dua semester berlangsung, semua kegiatan perkuliahan berlangsung secara daring, alias dari rumah saja. Tak bisa dipungkiri, kuliah secara daring cukup menyenangkan, seperti bisa tidur ketika kelas berlangsung (FYI, di Undip kebanyakan dosen nggak wajibin on-cam), hemat di uang dan waktu; karena tidak perlu ngekos, mikir biaya hidup, dan bolak-balik dari kos ke kampus, nggak perlu mandi ketika kuliah berlangsung, ujiannya santuyy, bahkan beberapa ada yang bolehin open book, dan masih banyak keuntungan lainnya dari kuliah daring.

Akan tetapi, selama dua semester menjalani perkuliahan daring ini ada banyak juga sisi tidak enaknya yang aku rasakan. Mulai dari rasa bosan yang berdatangan, rasa malas yang tak kunjung bergegas, rasa sepi yang menghampiri, dan materi pembelajaran yang tak masuk di pemahaman, merupakan permasalahan yang kerap kali aku hadapi ketika mengikuti perkuliahan secara daring.

Apalagi ketika jari-jari asik menggulir lini masa sosial media melihat betapa serunya teman-teman di kampus lain yang sudah menjalankan perkuliahan tatap muka; belajar di dalam kelas, ketemu teman-teman baru, bisa nongkrong bertukar pikiran dengan teman-teman, dan juga ikut event-event offline yang tampaknya sangat menyenangkan. Tak hanya itu saja, berdasarkan testimoni teman-teman yang sudah kuliah tatap muka, mereka menyebutkan bahwa materi perkuliahan ketika luring lebih masuk ke otak dibandingkan secara daring.

Melihat keseruan-keseruan yang mereka rasakan, aku jadi iri dan penasaran. Seringkali di dalam hatiku bertanya, β€œkapan ya kuliah tatap muka?”.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Meredanya penyebaran virus Covid-19 di Indonesia pada pertengahan tahun 2022 ini memberikan sinyal positif bagi dunia pendidikan Tanah Air. Ditambah lagi sudah banyaknya masyarakat yang mengikuti program vaksinasi dari pemerintah ataupun pihak swasta, membuat terciptanya herd immunity atau kekebalan kelompok, yang membuat virus Covid-19 ini tak semengerikan dulu lagi. Tapi ingat, prokes tetap dijaga~

Setelah usai mengerjakan Ujian Akhir Semester beberapa hari yang lalu, aku pun mendapatkan beberapa bocoran dari teman-teman di kampusku, bahwa kemungkinan besar (90% malah) bahwa di semester depan itu Universitas Diponegoro bakalan mengadakan perkuliahan secara offline atau tatap muka 100%. Waw, sangat menyenangkan!

Dua puluh tahun tinggal bersama orang tua, mendengarkan kabar tersebut sebenarnya sedikit membuatku panik dan gugup jika nantinya menghadapi hidup seorang diri di kampung orang. Tak ada pengalaman, tak ada teman, tak ada saudara, dan tak ada bekal yang baik kecuali taqwa, #eaa. Jika dikalkulasikan, rasa takut dan gugupku adalah 30% dan rasa senangku 70% untuk menghadapi kehidupan menjadi anak kos di tanah rantau.

Ada beberapa hal yang membuatku takut, khawatir, overthinking, dan sedikit gugup ketika menghadapi hidup menjadi seorang anak kos dan perantau di tanah rantau nantinya. Apa saja itu?

Kesulitan Bawa Barang Ketika di Pesawat

Ketakutan pertama yang aku rasakan sebelum menghadapi hidup menjadi seorang anak kos adalah ketakutan bakal sulit membawa barang-berang ketika di pesawat. Bagi teman-teman yang sudah pernah naik pesawat mungkin mengetahui, bahwa naik pesawat itu cukup banyak aturannya, nggak boleh bawa ini itu, mulai dari peraturan mengenai berat barang yang boleh dibawa ke bagasi atau kabin, peraturan mengenai barang apa saja yang boleh dibawa, dan berbagai peraturan lainnya.

Sebagai orang yang baru pertama kali ngekos, tentu barang yang bawa banyak, makanya aku agak kepikiran mengenai hal ini karena bakalan taruh dimana barang-barang ini nantinyaaa???!!! Oke, sudah overthinking-mu, mari berpikir bersamaku.

Solusi:

  • List/bikin daftar barang-barang apa saja yang penting banget dan wajib dibawa ketika ngekos nantinya.
  • Jika ada barang yang ribet dibawa, dipaketin aja!
  • Barang-barang yang murah dibawa ke sana aja.
  • Bawa pakaian secukupnya aja.
  • Kalau ada duit, beli bagasi tambahan.

Takut Kos Tidak Nyaman

Kos yang tidak nyaman juga menjadi momok menakutkan bagi diriku. Aku takut nantinya ketika sudah deal dan menempati kos-nya aku merasa tidak nyaman berada di sana, seperti menemukan beberapa masalah berikut:

  • Ibu Kos Galak
  • Tetangga Nyebelin
  • Lingkungan Tidak Nyaman
  • dan Kos Tidak Bisa Bikin Tidur

Hal itu semua bisa terjadi dikarenakan aku memesan kosnya secara online, sehingga tidak mengetahui begitu detail mengenai kos yang bakal ditempati. Mau survey, lokasi jauh banget!

Terus solusinya gimana?

  • Cari kosan yang sudah pernah ditempati oleh orang-orang yang deket, entah temen, saudara, atau kating dan minta review-nya dari mereka.
  • Minta rekomendasi kosan dari teman-teman.
  • Lihat rating kosan di Google Maps.
  • Lihat rating kosan di Mamikos.
  • SURVEY LANGSUNG! MAU GA MAU YE KAN.

Takut Tidak Bisa Bersosialisasi dengan Penghuni Kos Lain

Takut tidak bisa bersosialisasi dengan penghuni kos lainnya menjadi hal lainnya yang aku takutkan. Pasalnya, dari kecil hingga tumbuh menjadi seorang remaja, aku termasuk orang yang jarang bergaul dengan lingkungan sekitar, lebih memilih mengurung diri di kamar sambil ngerjain hal-hal yang aku sukai. Takutnya, kebiasaan ini kebawa hingga menjadi anak kosan dan bisa membuatku dikucilkan (?). Ntahlah, ini overthinking agak berlebihan sepertinya. Kalaupun tidak bisa bersosialisasi, kayaknya paling maksimal itu digosipin aja deh keknya, ya.

Terus solusinya gimana ya, aku sudah mencoba beberapa hal berikut ini:

  • Latihan menjadi orang yang ramah: mencoba menyapa orang lain duluan, basa basi ngajak makan, dan basa basi ngajak ngobrol.
  • Berlatih dengan ngobrol bersama orang asing, seperti tukang siomay, pedagang cilok, dan pedagang lainnya yang aku temui.

Takut Sakit Ketika di Kosan

Sakit di kosan adalah hal yang aku takutkan berikutnya. Sebagai orang yang jauh dari orangtua, sakit di kosan tentulah tidak menyenangkan. Tidak ada yang peduli, tidak ada yang merawat, dan semuanya serba sendiri, jadi terasa berat. Aku berharap nantinya ketika menjadi anak kos nanti, diberikan selalu kesehatan agar tidak sakit di kosan.

Solusinya:

  • Olahraga dan menjaga kesehatan.
  • Tidak begadang.
  • Mencari teman yang setia, yang dengan senang hati membantu ketika sakit.
  • Menyiapkan peralatan obat-obatan darurat (P3K).

Takut Susah Makan

Banyak dari teman-teman yang udah ngekos duluan mengatakan, bahwa masalah makanan merupakan hal yang seringkali dihadapi oleh anak kos; varian menu makanan yang itu-itu aja, ayam terus menerus, masak sendiri mager, beli makan mager, dan bahkan banyak yang terlambat makan juga karena sibuk kuliah. Solusinya ini mungkin bisa dengan masak sendiri, beli lauk di warteg, dan apalagi ya gak kepikiran.

Tidak Dapat Teman

Ini sebenarnya ketakukan yang dibuat-buat sih, aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan mendapatkan teman atau tidak nantinya di perkuliahan. Bagiku sendiri, cukuplah teman sedikit tapi berkualitas, daripada banyak tapi malah menjerumuskan. So, ini bukan terlalu masalah.

Terjerumus ke Hal Kemaksiatan

Katanya, hidup sebagai anak rantau adalah hidup penuh dengan kebebasan. Tidak ada orangtua, tidak ada karib kerabat, dan tidak ada saudara yang bakal mengawasi kita. Walaupun begitu, banyak yang lupa bahwa kita memilih Allah Ta’ala yang Maha Melihat gerak gerik kita. Sehingga berdasarkan cerita dari teman-temanku, banyak anak kosan di tanah rantau terjerumus kepada hal kemaksiatan, seperti minum khamr, perzinaan, judi, dunia malam, dan lainnya.

Tentunya aku takut terjerumus ke hal tersebut, maka dari itu aku siapkan beberapa hal (plus berasal dari nasihat orang-orang terdekat):

  • Menjaga shalat lima waktu
  • Mencari dan menghadiri kajian yang berada di dekat kos
  • Mencari teman yang baik
  • Berusaha menjaga diri sebaik mungkin
  • Jangan nggak enakan!

Sepertinya itu saja, terima kasih sudah membaca! (Capek gaes!)

9 thoughts on “7 Hal yang Bikin Takut Ketika Menjadi Anak Kos di Tanah Rantau”

  1. Dulu aq pernah jadi anak kosan pas masih kerja kak, emang bener sih banyak yang jadi pertimbangan termasuk takut kalo pas sakit gak ada yang merawat

  2. Huaaa, auto nostalgia ke masa kos-kosan ini. Deretan masalah ketakutan yang Kakak hadapi mirip banget dengan saya. Hahaha. Btw, masalah di atas kok mirip judul cerita fiksi atau FTV, ya? πŸ˜‚

  3. Duh jadi inget 14 tahun yang lalu jg pertama kali ngekos. Kalau takut susah makan aku sih siap bawa lauk kering, macam abon, sambal kering kentang gitu mas. Penting banget cari lingkungan dna teman yang baik. Satu lagi sih minta doa ortu khususnya ibu! Pokoknya itu senjata paling ampuh agar dilindungi dari segala marabahaya

  4. Richa Miskiyya

    Selamat datang di Tembalang yaaaa, jangan lupa buat main-main juga ke Semarang bawah πŸ˜€

  5. Aku dari dulu penasara gimana rasanya tinggal di kost πŸ™ˆ
    Secara dari lahir, sekolah SD sampe Kuliah tinggal sama orang tua hehe. Tapi sering denger cerita teman2 kampus yg ngekost. Yap, banyak plus minus yaa tentunya, tapi jadi pengalaman yg seru juga ya kan.

    Apa aku harus kuliah lagi dan nyoba ngekost juga biar tau rasanya langsung yaaa, hehe

  6. Jadi ingat waktu awal-awal merantau dulu
    Pertamakali jadi anak kost. Tiap malam telp ibu bapak, mengadu ini itu
    Ah, bagian dari perjalanan hidup. Sekarang jadi kenangan manis

    Selamat menikmati masa-masa jadi anak kost ya
    Seru lho belajar hidup mandiri itu
    Semoga sukses dan lancar selalu pendidikannya

  7. Sebenernya manusiawi banget anak rantauan awal-awal takut banyak hal apalagi klw kali pertama jauh dari keluarga. Tapi yakinlah sebanding dengan banyaknya pengalaman yang akan didapat. Dan itu berguna saat sudah selesai kuliah nanti.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top